Dulu Sekarang dan Selamanya
Karya :
Camelia Putri.
Dian, Retno, Defanny,
Tyas. Itulah dia, sahabat ku. Aku rindu padamu sahabat. Sudah 1tahun kita tak
bertemu. Aku rindu pada masa-masa kita masih SD dulu.Saat kita saling
bersama-sama, bercanda bersama, melakukan
hal-hal yang konyol, dan sebagainya. Aku rindu itu semua.
Maafkan, aku sahabat.
Aku memang egois, saat itu. Aku hanya mementingkan kepentingan ku, tanpa
berfikir tentang mu. Tapi, bukan berarti aku marah padamu setelah kejadian itu.
Sungguh, aku menyesal. Sekarang, aku tak tau harus bagai mana lagi. Aku malu,
aku ingin sekali meminta maaf padamu, hanya saja aku gengsi untuk melakukan ini
semua.
Saat itu, aku dan
Defanny merencanakan untuk berkumpul
bersama lagi, setelah lama kita tak bertemu. Saat itu, aku mengajak Defanny ke
Restoran yang tak seberapa jauh. Aku mengabari kepada sahabat ku yang lain.
Tentunya Dian pasti setuju, dan ikut. Sementara Tyas, dia tak bisa. Kalau,
Retno dia mengatakan bahwa ia tak tau tempat restoran itu dan ia mengusulkan
kalau lebih baik ke Mall yg tak jauh dari rumah nya. Aku tak setuju dengan
usulan Retno, karena aku memang tak tau dimana letak rumah nya dan dimana Mall
itu berada.
Retno sempat tak mau
dengan ajakan ku. Tapi, aku terus memaksa dan memaksa nya. Sempat aku menangis,
karena aku tak tau harus bagaimana. Aku pun menjadi-jadi, aku tak bisa menahan
rasa amarah ku dan egois ku. Saat aku ingin sejenak meredahkan amarah ku, aku
membuka Laptop ku dan membuka salah satu jejaring sosial ku, Facebook. Saat aku
membuka Facebook ku, entah mengapa saat aku melihat sebuah stastus facebook
Retno. Rasanya aku tak bisa lagi menahan amarahku. Bagaimana tidak, ia membuat
status yang menyindirku. Ia mengatakan bahwa aku adalah seorang sahabat yang
tak tau diri, dan tak pernah mengerti perasaan nya. Sungguh, aku sangat tarpaku
dengan perkataan di status Facebook nya itu. Dan, saat itu juga aku tak bisa
menahan amarahku. Terpaksa, aku membalas nya dengan membuat status yang juga
menyindirnya.
Lambat laun, hari demi
hari berlalu. Sudah 1 minggu aku tak mengabari masalah ini dengan Defanny.
Tiba-tiba saja, HandPhone ku berbunyi. Saat aku melihat, ternyata ada BBM yang
masuk. Saat kubuka, ternyata Defanny. Aku benar- benar terkejut, ternyata ia
juga membatalkan rencana ini. Saat aku ingin mengabari Dian, tak kusangka
tiba-tiba HandPhone ku berbunyi kembali. Ternyata ada sebuah SMS, dan
pengirimnya adalah Dian. Saat ku buka, betapa terkejutnya aku. Ternyata ia juga
membatalkan rencana ini. Dan itu sangat-sangat membuat ku marah.
Saat itu juga, aku pun
mengirimi sebuah pesan untuk mereka ber-3. Aku menulis bahwa aku tak ingin lagi
menemui mereka lagi. Memang, aku memang tega dengan diriku sendiri, dan
sahabat-sahabat ku. Aku mengucapkan sebuah kata Maaf di bawah pesan ku itu. Sebenarnnya
aku sendiri juga tak tega. Tapi, bagaimana lagi, kejadian ini membuat ku benci
kepada mereka. Dan, kuputuskan. Janji ku ini tak akan pernah berubah, aku tak
akan lagi mau menemui mereka. Aku sudah meminta maaf pada mereka, biarkan
mereka juga ikut merasakan perasaan ku slama ini. Biar, mereka semua mengerti.
Lambat
laun, hari demi hari. Semenjak kejadian itu, mereka semua mengerti perasaan ku
pada saat itu. Dan, mereka meminta ku untuk memaaf kan kesalahan mereka.
Bagaimana pun juga, ia adalah Sahabatku. Aku pun memaafkan mereka. Dan kini aku
merasa bahagia, karena mereka juga tak marah padaku lagi. Tapi, bagaimana pun
juga janji itu akan terus aku pegang untuk selama nya.. “Maafkan aku Sahabat.”
Namun kau tetap lah Sahabat ku. Sahabat ku yang Dulu, Sekarang dan Selama nya.
Komentar
Posting Komentar